Buku Wajah Muslim Indonesia

Wajah Muslim Indonesia cukup berbeda dengan wajah Muslim di negara lain. Muslim Indonesia memiliki keunikan tersendiri dalam hal ritual keagamaan dan tradisi keagamaan. Selain itu. Muslim di Indonesia juga memiliki keberagaman pandangan keagamaan sesuai dengan pemikiran-pemikiran khas ala ulama Nusantara. Wajah Muslim Indonesia dari berbagai periode terus mengalami perubahan sesuai zamannya, terutama setelah masa reformasi. Gerakan Islam “baru” mulai bermunculan, bak jamur dimusim hujan. Gerakan pemikiran tersebut secara berlahan menggeser wajah Muslim Indonesia seperti yang hari-hari ini dirasakan oleh pembaca. Munculnya generasi yang lebih puritan dan konservatif itu pada akhirnya menimbulkan gesekan-gesekan, baik dari sisi pemikiran maupun ritual keagamaan dengan muslim tradisionalis yang lebih mapan. Muslim tradisionalis adalah muslim yang melaksanakan ritual keagamaan kultural (seperti: tahlilan, megengan, slametan, maulid, dll). Dalam hal pemikiran mereka memiliki pemikiran moderat yaitu pemikiran yang cenderung ketengah, mereka tidak mudah menbid’ahkan ibadah yang sifatnya khilafiyah, apalagi sampai mengkafirkan muslim lain. Muslim puritan adalah muslim yang mengusung ritual keislaman yang murni. Mereka tidak melaksanakan ritual keagamaan yang telah berakulturasi dengan budaya lndonesia misalnya tahlilan, slametan, maulid, dan sebagainya. Mereka menganggap bahwa ritual ibadah tersebut dalilnya lemah dan dianggap bid’ah. Dalam hal pemikiran, mereka cenderung berpemikiran agak kaku dalam menyikapi persoalan-persoalan keagamaan dimasyarakat. Pemikiran dan narasi keagamaan yang dibangun cenderung skriptualis.

Kebutuhan untuk memotret Wajah Muslim Indonesia dirasa cukup mendesak, agar pembacaan terhadap Muslim Indonesia tidak berdasarkan atas asumsi-asumsi dan opini semata. Apalagi saat ini Indonesia mengalami pergeseran dari sisi demografi, khususnya merebaknya generasi millennial, kalangan urban dan kelas menengah (middle-class). Buku ini disusun berdasarkan hasil riset, yang dominan berbasis pendekatan kuantitatif. Selama ini buku-buku yang memotret wajah Muslim Indonesia dengan basis riset kuantitatif sangat jarang sekali. Mayoritas buku tentang wajah ke-Islaman di Indonesia berbasis riset kualitatif dan terbatas pada wilayah tertentu saja. Selain itu, bagaimana wajah Muslim Indonesia hari ini tentunya akan menentukan wajah Muslim Indonesia dimasa mendatang. Karena komponen muslim dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia telah menjadi entitas yang tidak bisa dipisahkan. Muslim adalah entitas terbesar masyarakat Indonesia hari ini. Sehingga inilah yang menjadi alasan kenapa buku ini dibuat, terutama untuk menambah khasanah ilmu pengetahuan tentang kondisi Muslim yang sesungguhnya di Indonesia. Buku ini terdari atas 9 bab dan setiap bab membahas topik berbeda namun saling berkaitan satu dengan yang lainnya:

Bab 1: Bab pertama buku membahas tentang demografi Muslim Indonesia. Penulis merasa penting untuk memberikan gambaran demografi dan geografi muslim Indonesia, agar para pembaca memahami bahwa posisi umat Islam di Indonesia memiliki peran yang strategis. Bahasan yang cukup menarik dalam buku ini adalah bagaimana posisi Muslim Indonesia secara demografis untuk saat ini dan masa mendatang. Jika saat populasi Muslim Indonesia menjadi yang terbesar di dunia, bagaimana depan 10 tahun, 20 tahun, hingga 30 tahun ke depan. Jika terjadi pergeseran tentunya akan memberikan dampak tersendiri bagi peran Muslim Indonesia dari sisi regional maupun internasional.

Bab 2: Bab kedua membahas tentang makna agama bagi Muslim Indonesia. Di abad millennium ini, Pew Research Center dalam sebuah laporannya secara garis besar menemukan bahwa manusia hari ini telah banyak meninggalkan agamanya. Lalu apakah fenomena tersebut juga terjadi pada umat Muslim di Indonesia. Pertanyaan tersebut tentunya perlu dikonfirmasi dan dibuktikan kebenarannya. Bab kedua ini akan membahas terlebih dahulu tentang arti dan fungsi dari agama itu, setelah itu menjelaskan tentang dimensi agama, dan pilar agama yaitu rukun Iman, Islam dan Ihsan. Kemudian membahas tentang makna agama bagi Muslim di Indonesia serta kedudukan agama dalam setiap diri Muslim Indonesia.

Bab 3: Bab ketiga membahas tentang ritual keagaamaan Muslim Indonesia yang didukung oleh data-data hasil riset kuantitatif. Membaca Muslim Indonesia tidak lengkap tentunya tanpa membaca ritual keagamaan yang dilakukan, karena varian ritual keagamaan Muslim Indonesia cukup banyak. Varian tersebut muncul karena akulturasi dengan budaya setempat. Ritual keagamaan yang dibahas dalam buku ini meliputi tahllil, bacaan qunut sholat subuh, peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, jumlah rakaat tarawih serta ziarah kemakam ulama. Ritual keagamaan Muslim Indonesia akan dipotret dari berbagai sisi seperti usia, gender, serta wilayah geografis.

Bab 4: Bab keempat membahas pandangan dan sikap social keagamaan Muslim Indonesia. Pandangan dan sikap social keagamaan ini terbagi menjadi 2 bahasan utama. Pertama tentang pandangan terkait isu-isu sosial keagamaan kontemporer. Isu-isu tersebut telah menjadi perdebatan hangat diruang publik, ada yang pro dan ada yang kontra. Pro yang dimaksud adalah menganggap tidak salah secara moral, dan kontra yang dimaksud adalah dianggap salah secara moral. Isu-isu kontemporer yang dimaksud adalah isu LGBT, prostitusi di lokalisasi, hidup bersama tanpa nikah, poligami dan perceraian. Kedua tentang pandangan relasi agama dan negara. Isu relasi agama dan negara menjadi isu yang sangat penting, karena menyangkut keutuhan bangsa dan negara. Isu-isu relasi agama dan negara yang dimaksud adalah isu intoleransi, bentuk negara dan ideologi negara. Bagaimana persepsi Muslim Indonesia tentang isu-isu tersebut, silahkan dibaca bab 4 dalam buku ini.

Bab 5: Bab kelima membahas tentang tradisi Muslim Indonesia. Muslim Indonesia memiliki tradisi yang khas, yaitu tradisi kekeluargaan dan gotong-royong. Tradisi tersebut telah mengakar dan tidak bisa dipisahkan dari kehidupan Muslim Indonesia. Tradisi yang dimaksud dibuku ini adalah mudik lebaran, takbir keliling, halal bihalal dan megengan. Tradisi dimaksud tersebut dilaksanakan berkaitan dengan momentum khusus seperti saat hari raya Idul Fitri dan menjelang puasa Ramadhan. Tradisi tersebut perlu dibahas lebih detail sehingga memberikan pemahaman kepada generasi muda muslim agar tetap menjaga dan melaksanakan tradisi yang baik tersebut.

Bab 6: Bab keenam membahas tentang potret ormas Islam di Indonesia. Umat Muslim di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari aktivitas keormasan. Ormas Islam di Indonesia telah menjadi wadah aktualisasi Muslim Indonesia dalam berbagai bidang baik itu keagamaan, ekonomi, sosial dan politik. Untuk itu membahas tentang Ormas Islam menjadi sangat penting. Buku ini membahas ormas Islam di Indonesia dari sisi kesejarahan, persepsi dan preferensi Muslim terhadap ormas, hingga estimasi keanggotaan ormas tersebut.

Bab 7: Bab ketujuh membahas tentang keberagamaan generasi millennial Indonesia. Millenial merupakan entitas yang cukup menentukan terhadap wajah muslim Indonesia, karena dari sisi jumlah dan pengaruhnya yang besar. Millenial merupakan generasi yang cukup unik dengan segala perilakunya sehingga perlu dipotret secara khusus. Buku ini akan memotret secara lebih spesifik terkait dengan ritual keagamaan millenial, kedekatan millenial dengan ormas Islam, ulama panutan millenial hingga tren keagamaannya. Tren millenial muslim yang menjadi bahasan diantaranya seperti belajar Islam melalui sosmed atau Youtube, budaya sharing dan hijab trendi. Pembahasan ditunjang hasil riset, dengan tujuan untuk mempertajam analisis yang dibuat dalam buku ini.

Bab 8: Bab kedelapan membahas tentang tren kelas menengah (middle-class) muslim Indonesia. Kelas memengah telah menjadi salah satu tren demografi Indonesia, sehingga memotret tren keberagamaan kelas menengah menjadi sesuatu yang wajib. Kelas menengah adalah potret masyarakat modern karena mereka melek pendidikan dan juga memiliki daya beli yang mumpuni namun secara keagamaan masih rendah karena mayoritas mengenyam Pendidikan umum dibanding pendidikan agama. Tren yang terjadi pada kalangan kelas menengah Muslim Indonesia antara lain: trend umroh, tren produk halal, tren hijabers, tren produk keuangan syariah, tren wisata halal dan tren filantropi.

Bab 9: Bab kesembilan atau bab terakhir dalam buku ini membahas tentang tantangan kehidupan keberagamaan Muslim Indonesia saat ini. Beragam tantangan keberagamaan di Indonesia muncul seiring dengan gelombang perubahan zaman. Tren global, perubahan demografi, perubahan sosial politik, perubahan ekonomi, perubahan teknologi serta perkembangan wacana keagamaan secara langsung maupun tidak langsung menjadi faktor penting dalam perubahan model keberagamaan di Indonesia. Saat ini wajah Muslim Indonesia masih merupakan wajah Muslim Moderat. Namun wajah tersebut bisa berubah seiring maraknya ajaran intoleransi dan radikalisme atas nama agama, gelombang politik identitas, hoaks serta rendahnya literasi digital. Tantangan tersebut akan dibahas secara detail dan dengan bahasa yang mudah dipahami, sehingga pembaca tidak jenuh dalam membaca buku ini.

Terakhir penulis ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penulisan dan penerbitan buku ini. Semoga dengan hadirnya buku ini, memberikan tambahan diskursus tentang Muslim Indonesia. Semoga buku ini bisa menjadi referensi bacaan bagi para pembaca yang senang dengan dunia ke-Islaman terumata Islam di Indonesia. Jadi selamat membaca.


Discover more from alvara

Subscribe to get the latest posts sent to your email.

Share this post