Radikalisme diduga telah massif masuk di kalangan terdidik, baik itu di kalangan Profesional, kalangan kampus dan kalangan Pelajar. Masih segar di ingatan kita beredarnya video deklarasi dukungan terhadap khilafah oleh sejumlah Mahasiswa Institut Pertanian Bogor (IPB) pada Januari 2017 lalu. Kejadian tersebut seolah menjadi pukulan telak, bahwa intitusi pendidikan tinggi yang dibiayai oleh uang negara, ternyata menjadi bagian dari Gerakan radikalisme. Kejadian lainnya adalah adanya oknum PNS dari Kementrian Keuangan RI yang bernama Triyono Utomo Abdul Sakti, yang ditangkap oleh otoritas Turki karena hendak bergabung dengan ISIS di Suriah. Triyono beserta istri dan anaknya, akhirnya di deportasi ke Indonesia.
Fenomena Mahasiswa IPB dan fenomena Triyono adalah fenomena gunung es yang bisa meledak sewaktu-waktu. Fenomena tersebut bukan kejadian yang instan dan terjadi secara tiba-tiba. Diduga bahwa fenomena tersebut adalah buah dari reformasi dan kurangnya antisipasi pemerintah selama ini mengawasi gerakan-gerakan fundamentalisme yang mengajarkan intoleransi dan radikalisme. Gerakan tersebut diduga telah menyebar luas, dan telah memasuki sektor-sektor strategis negara. Channel dan media penyebaran ajaran interansi makin meluas dengan berkembangkan teknologi internet, sosial media dan media messeging.
Mengacu fenomena tersebut, maka Alvara Research Center dan Yayasan Mata Air bulan Oktober 2017 melakukan survei untuk memetakan potensi radikalisme di kalangan terdidik. Riset ini bertujuan untuk mengukur dan memetakan dengan seksama seberapa luas radikalisme menyebar di kalangan terdidik. Riset ini akan menjadi early warning system bagi segenap komponen bangsa, khususnya pemerintah jika dugaan radikalisme di kalangan terdidik sudah begitu masing memang terbukti melalui fakta ilmiah.
Riset ini menggunakan kaidah statistik yang bisa dipertanggungjawabkan secara akademik dengan menggunakan pendekatan riset kuantitatif. Riset melibatkan 3 kategori yaitu Profesional, Mahasiswa dan Pelajar. Data dikumpulkan melalui wawancara tatap muka (face to face interview) dengan responden terpilih, dengan menggunakan kuesioner sabagai alat ukur. Survey dilaksanakan pada tanggal 1 September – 5 Oktober 2017.
Sampel kategori Profesional sebanyak 1.200 responden. Sampel survey di kalangan Profesional dibagi menjadi 3 kategori, yaitu Pegawai Negeri Sipil (PNS), pegawai Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan pegawai swasta dengan masing-masing sampel untuk tiap kategori secara berturut-turut adalah 300 responden, 500 responden dan 400 responden. Survey kalangan Profesional dilakukan di 6 kota besar di Indonesia, meliputi Jakarta, Bandung, Semarang, Surabaya, Medan dan Makassar. Sampel lebih banyak diambil di Jakarta karena Jakarta merupakan pusat pemerintahan dan Industri.
Kriteria Profesional yang diambil sebagai sampel pada riset ini adalah Profesional yang bekerja di 7 sektor. Ketujuh sektor tersebut adalah sektor pertahanan dan keamanan, sektor keuangan, sektor energi dan pangan, sektor telekomunikasi dan logistik, sektor kesehatan, sektor pendidikan, sektor manufaktur dan infrastruktur. Ketujuh sektor tersebut diambil karena merupakan sektor vital yang menopang keberlangsungan kehidupan barbangsa dan bernegara, serta keutuhan NKRI.
Sampel kategori Mahasiswa sebanyak 1.800 responden. Mahasiswa yang menjadi responden adalah Mahasiswa di 25 perguruan tinggi favorit di Indonesia dengan jurusan tertentu, yaitu Mahasiswa dengan jurusan yang akan mensuplai pasar tenaga kerja Profesional di 7 sektor. Perguruan tinggi yang menjadi basis sampel adalah Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, Universitas Gajah Mada, Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Universitas Airlangga, Institut Pertanian Bogor, Universitas Diponegoro, Universitas Brawijaya, Universitas Padjajaran, Universita Pendidikan Indonesia, Universitas Negeri Jakarta, Universitas Negeri Jogjakarta, Universitas Negeri Semarang, Universitas 11 Maret, Universitas Andalas, Universitas Sumatera Utara, Universitas Riau, Universitas Hasanudin, Universitas Binus, Universitas Trisakti, Institut Pendidikan Dalam Negeri, Sekolah Tinggi Akutansi Negara, Sekolah Tinggi Ilmu Statistik dan Universitas Telkom.
Sampel kategori Pelajar sebanyak 2.400 responden. Pelajar yang dimaksud adalah Pelajar Sekolah Menengah Atas (SMA) negeri favorit. Area survey adalah seluruh Kabupaten/Kota di Pulau Jawa dan beberapa kota besar di luar pulau Jawa. Kota besar yang dimaksud adalah Medan, Palembang, Pekanbaru, Padang, Bandar Lampung, Balikpapan, Banjarmasin dan Mataram. Sampel untuk pulau Jawa sebanyak 1.800 responden dan sampel untuk luar pulau Jawa sebanyak 600 responden. Tiap Kabupaten/Kota diambil 5 SMAN favorit sebagai sampel, sehingga pada riset ini melibatkan Pelajar di lebih dari 600 SMAN. Tiap kategori jurusan diambil (IPA, IPS dan Bahasa), dimana proporsi IPA lebih banyak dari jurusan IPS dan Bahasa. SMAN favorit diambil sebagai sampel karena merekalah yang memiliki peluang untuk masuk sebagai Mahasiswa di kampus-kampus favorit dengan jurusan yang terkait 7 sektor vital negara.
Beberapan kesimpulan dalam riset ini antara lain bahwa penetrasi ajaran intoleransi dan radikal telah masuk di kalangan terdidik (Profesional, Mahasiswa dan Pelajar). Ada indikasi kuat bahwa kelompok Profesional, Mahasiswa dan Pelajar terpapar ajaran intoleransi dan radikalisme. Penetrasi ajaran-ajaran intoleransi yang anti Pancasila dan NKRI di kalangan terdidik masuk melalui kajian-kajian keagamaan yang dilakukan di tempat kerja, dilembaga dakwah kampus dan kegiatan keagamaan di sekolah.
Untuk hasil selengkapnya dapat didownload pada link berikut:
Radicalism Rising Among Educated People?
Discover more from alvara
Subscribe to get the latest posts sent to your email.





